Pemeriksaan LJK Tidak Boleh Terlepas Dari Human Factor

Teknologi komputerisasi memang pada saat ini sudah terbilang canggih. Kecanggihannya pun telah banyak dimanfaatkan lembaga maupun perorangan. Salah satu pemanfaatannya diantaranya adalah pemeriksaan lembar ujian dengan sistem LJK (lembar jawaban komputer). Dengan LJK ini pemeriksaan lembar ujian bisa sangat jauh lebih cepat.

Perlu diingat juga bahwa sebuah teknologi pasti memiliki kelemahan. Sering (atau pernah sesekali mungkin) kita dengar sebuah kalimat terlontar, “Jawabannya tidak terbaca oleh komputer“, akibatnya ada saja (bahkan banyak) siswa yang menjawab pertanyaan dengan benar harus gagal hanya karena jawaban yang ia cantumkan pada LJK tidak terbaca. Oleh karena itu, saya kali ini ingin menyampaikan secara umum bahwa penggunaan teknologi apapun jangan sampai melepaskan faktor manusia (human factor).

Bisa saja siswa di atas lulus andai saja semua jawaban dapat terbaca oleh komputer dengan baik saat pemeriksaan. Namun mungkin karena suatu hal sepele (meski banyak orang bilang itu fatal), kerkurangtelitian siswa tersebut misalnya saat mencantumkan jawaban (mengisi pada LJK), jawaban yang ia cantumkan tidak dapat terbaca dengan baik oleh komputer. Alhasil siswa tersebut gagal hanya karena hal tersebut. Kemudian, dalam pengumuman kelulusan, siswa tersebut harus gagal hanya karena ia tidak mengisi LJK dengan benar.

Dari ilustrasi di atas, siapa yang harus dipersalahkan, apakah siswa tersebut karena tidak dapat mengisi LJK dengan benar ataukah mesin komputer itu sendiri yang tidak dapat membaca jawaban pada LJK. Yang jelas menurut saya siswa tersebut tidak dapat dipersalahkan begitu saja, bergitu pula dengan teknologi yang digunakan. Satu hal saja, kita telah melupakan faktor manusia. Jika kita hanya mengandalkan teknologi dan melupakan faktor manusia maka kita tidak lebih hanya termasuk orang yang malas dan telah terbuai teknologi tersebut.

Apabila terdapat LJK yang tidak terbaca dengan baik oleh komputer, kita (atau mereka jika anda setuju dengan saya) hanya mengatakan “Siswa A tidak mengisi LJK dengan benar sehingga tidak terbaca oleh komputer“. Perlu diingat, bahwa sebenarnya tujuan pemanfaatan penggunaan teknologi dalam pemeriksaan lembar ujian hanyalah (dan tidak lebih) untuk mempercepat proses saja. Dan apabila mesin komputer tidak dapat membaca dengan baik (LJK), maka kita (manusia) tidak begitu saja menyerahkan hasilnya pada sebuah teknologi. Apabila muncul hal tersebut maka faktor manusialah yang harus menanganinya.

Saya yakin betul apabila mesin tidak dapat membaca LJK dengan baik, maka manusia masih tetap dapat membacanya. Siswa tersebut pun tentu bisa lulus, meskipun jawabannya pada LJK-nya tidak dapat terbaca oleh komputer dengan baik. Sebaliknya, jika memang tidak ada masalah yang muncul, tentu saja tidak ada hal yang harus dipermasalahkan.

Sekali lagi saya hanya ingin menyampaikan bahwa penggunaan teknologi tidak boleh terlepas dari faktor manusia. Apabila teknologi tidak dapat menyelesaikan masalah dengan baik maka faktor manusialah yang harus menanganinya. Kita tidak boleh mengandalkan teknologi untuk menyelesaikan pekerjaan kita sepenuhnya apalagi sampai terbuai dan malas, dan hanya menyerahkannya begitu saja pada sebuah teknologi.

2 Pairan

  1. yanuar pok,

    Désémber 18, 2008 pukul 12:18 pm

    technology.. made by human, for human..

  2. ryan hidayat pok,

    Méi 10, 2009 pukul 4:06 am

    bener tuch jangan ngandelin komputer aja tapi bagi yang tidak terbaca harus dikoreksi manual


Béré Pairan